Skip to content

Manado Ocean Conference

4 Januari 2010

RI tahun ini berperan penting di bidang lingkungan. Ajang simposium internasional membahas masalah kelautan di dunia akhirnya menghasilkan Manado Ocean Conference (MOC).

Sebanyak 75 negara yang memiliki basis maritim mengutus para ilmuwan ke Manado, Sulawesi Utara (Sulut) 11-15 Mei 2009, bersama 11 anggota badan dunia bidang lingkungan untuk membahas penyelamatan laut dari ancaman pemanasan global.

“Manado turut memberikan andil besar pada upaya menyelamatkan lingkungan dari pemanasan global, dan itu murni usulan dari daerah yang diserap pemerintah Indonesia,” kata mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, pada waktu kegiatan itu berlangsung.

Menurut Numberi yang saat ini menjabat Menteri Perhubungan di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II itu, strategi dan terobosan Provinsi Sulut tidak sekedar untuk mengangkat persoalan laut, karena luas wilayah laut Indonesia 5,8 juta km2, atau mendekati 70 persen dari luas keseluruhan negara Indonesia.

“Manado sudah menghentak dunia dan itu akan menjadi sejarah baru bagi upaya penyelamatan lingkungan laut,” katanya.

Indonesia ingin menciptakan Manado sebagai pintu gerbang ekonomi dan pariwisata di Asia Pasifik, serta menjadi destinasi baru sektor pariwisata di Indonesia setelah Provinsi Bali.

Sementara pada pembahasan WOC yang sempat dibuka Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, ada beberapa isu krusial banyak diperdebatkan dalam forum tersebut, antara lain terkait penyelamatan laut, adaptasi pendanaan, transfer teknologi, dan riset.

Negara-negara berkembang ingin agar masalah-masalah itu bisa terakomodasi secara jelas dalam MOD, sementara negara-negara maju menolaknya.

“Negara-negara maju ingin agar MOD tidak menggunakan ‘strong-language’ yang mengikat karena deklarasi pada prinsipnya adalah sebuah komitmen politik sedangkan pihak negara-negara berkembang ingin MOD menggunakan bahasa-bahasa yang jelas dan kuat serta mengikat dalam draf itu,” ujarnya.

Indonesia berupaya untuk menjembatani kepentingan berbagai pihak, agar MOD benar-benar mencerminkan kondisi kelautan yang sebenarnya, serta langkah-langkah yang tepat dalam menangani kerusakan lingkungan laut serta memelihara kelestariannya.

Selain persoalan laut, penyelamatan terumbu karang juga menjadi isu penting pada WOC, sehingga enam kepala negara yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, harus membahas khusus di Manado.

Persoalan terumbu karang dibahas melalui Coral Triangle Initiative (CTI) Summit, karena merupakan biota laut yang mampu menyerap emisi dan karbon serta melindungi jutaan biota laut.

“Terumbu karang merupakan rumahnya ikan di laut, sehingga perlu dijaga,” kata Sekretaris Menko Kesra Indroyono Susilo.

Lima hal yang menjadi kesepakatan dan Rencana Aksi Regional dalam Deklarasi Segitiga Terumbu Karang akan terkait dengan prioritas menjaga kawasan segitiga terumbu karang dengan manajemen yang efektif.

Selain itu, menggunakan pendekatan ekosistem untuk mengelola ikan dan sumber daya laut lainnya. Membuat kawasan konservasi dengan pengelolaan yang efektif, termasuk menggunakan cara pengelolaan berbasis komunitas.

Forum Global untuk Kelautan, Pantai dan Kepulauan menyatakan masyarakat di kawasan pesisir pantai dan pulau-kecil paling rentan terkena dampak perubahan iklim terhadap laut sehingga komunitas global harus memberikan perhatian khusus kepada mereka.

“Mitigasi harus dijabarkan untuk memastikan populasi yang ada di daerah pantai terselamatkan,” kata Kepala Sekretariat Forum Global untuk Kelautan, Pantai dan Kepulauan Dr Biliana Cicin-Sain.

Biliana juga mengatakan mobilisasi pendanaan untuk menekan dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut penggunaannya harus diprioritaskan untuk mendukung masyarakat pesisir di negara-negara berkembang dalam melakukan adaptasi dan mitigasi dampak tersebut.

Hal itu, kata dia, menjadi sangat penting karena sekitar 50 persen penduduk dunia berada di kawasan pesisir pantai dan daerah kepulauan di negara-negara berkembang.

Kegiatan internasional yang digelar di Manado itu tidak luput dengan isu internasional terkait pencegahan virus mematikan H1N1 seperti penyakit flu babi yang diduga berasal dari Meksiko.

Pemerintah Indonesia berhasil menangkal dan mengantisipasi dampak penyebaran flu babi, saat pelaksanaan WOC, di Manado lalu.

“Pengamanan dilakukan mulai dari Bandara Sam Ratulangi (Samrat) Manado hingga tempat-tempat strategis yang bisa disusupi penyakit itu,” kata Gubernur Sulut SH Sarundajang.

Pemerintah pusat sudah menyiapkan deteksi suhu badan atau “thermo scanner” di Bandara Samrat, agar ribuan peserta WOC dari 121 negara yang menyatakan siap datang ke Manado, mampu diantisipasi.

Keberadaan “thermo scanner” melalui kamera pengukur panas itu, dapat mengetahui kondisi penumpang lewat “body scanner’, apakah dalam kondisi sehat atau tidak.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: