Skip to content

Swiss diKecam di Indonesia

2 Desember 2009
tags: , , ,

Langkah Swiss yang melakukan pemungutan suara terkait boleh tidaknya pendirian menara mesjid di Swiss (yang akhirnya di putuskan dilarang pendiriannya) menimbulkan berbagai reaksi dari Indonesia, khususnya dari organisasi muslim di Indonesia (PBNU, MUI dan FPI) dan pemerintah.

Pernah diberitakan sebelumnya bahwa sebenarnya pemerintah, Parlemen Swiss, Masyarakat Yahudi dan Kristen Swiss yang tergabung dalam The Swiss Council of Religions (SCR) sangat menentang hal tersebut.

Pemerintah dan Parlemen Swiss merekomendasikan pemilik hak suara untuk menentangnya sementara Masyarakat Yahudi dan Kristen Swiss yang tergabung dalam The Swiss Council of Religions (SCR) berpendapat prakarsa itu merupakan wujud dari kekhawatiran dan ketakutan terhadap muslim.

Menteri luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, di Gedung Deplu, Jakarta, Selasa (1/12) mengatakan “Kami kecewa dengan keputusan itu. Indonesia menentang dengan tegas segala tindakan diskriminatif terhadap kebebasan beragama,”

Kendati demikian, Marty mengatakan hal ini tak sepantasnya disikapi dengan emosi. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, Indonesia mendapat peran penting dalam mempromosikan harmonisasi umat beragama. Oleh karena itu, Ia menyarankan masyarakat bertindak dengan kepala dingin.

“Ini artinya, Indonesia harus terus mendorong dialog antar agama di tingkat apapun. Sudah menjadi tugas kita untuk meningkatkan mutual understanding antar umat beragama,” ungkap pengganti Hassan Wirajuda itu

Dilain kesempatan, Ketua Umum Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Muzadi mengatakan “Ini patut disesalkan, menunjukkan kurang toleransinya masyarakat Swiss terhadap kebebasan beragama, di saat sikap saling menghormati berbagai agama sedang tumbuh di dunia,” kata Hasyim di Jakarta, Senin (30/11).

Hal yang kurang lebih sama diutarakan oleh Wakil Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Ni’am, “Kebebasan beragama merupakan nilai paling urgent yang terdapat di dalam HAM, Di dalam hak asasi manusia terdapat hak untuk memiliki keyakinan, hak untuk beribadah, dan mendirikan tempat ibadah,” ujarnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin (30/11) siang.

Menurutnya, perlakuan pelarangan tersebut merupakan pelanggaran hukum HAM, “Saya sangat menyesalkan kasus pelanggaran HAM tersebut. Karena, kejadian ini muncul di masyarakat yang mengaku berbudaya,” tegasnya.

Pernyataan yang lebih ekstrim lagi diungkapkan oleh salah satu anggota Front Pembela Islam (FPI), Mustafa kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (1/12)., “Jangan sampai membangunkan macan yang sedang tidur,”

Ia menilai, langkah pemerintah Swiss tersebut tidak bijak. Sebab, pendirian menara masjid hampir dipahami fungsinya oleh umat manusia di dunia. “Menara itukan berfungsi sebagai sarana sosialisasi beribadah bagi umat muslim, kalau tidak ada bagaimana ini,” ujarnya seraya menerangkan.

Selain itu, langkah tersebut juga dinilai memprovokasi. “Ini kan seperti membenturkan nilai keagamaan,” ungkapnya penuh kesal.

Namun, ia mengungkapkan, tindakan tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi di Swiss, namun juga di Indonesia. Yakni melalui upaya-upaya kelompok tertentu yang sengaja membenturkan ajaran Islam.

Tidak hanya itu, ada skenario untuk mempermasalahkan sesuatu yang ada dalam ajaran dan tradisi Islam yang seharusnya tidak perlu di permasalahkan.

“Seperti ada yang bilang kalau adzan itu gak perlu, itukan sebenarnya mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu di permasalahkan,” jelasnya.

Tindakan itu juga, menurut Mustafa mencederai umat Islam di seluruh dunia. Karena itu, ia menegaskan, FPI akan terus berjuang untuk menegakan nilai dan tradisi Islam.

“Karena Islam tidak pernah mencari masalah, maka ini menciderai Islam, kita di FPI akan terus bergerak memperjuangkan nilai dan tradisi Islam,” tandas Mustafa.

Dalam referendum yang berlangsung Minggu (29/11), lebih dari 57 persen rakyat Swiss mendukung larangan itu. Usulan larangan itu juga didukung oleh provinsi-provinsi utama, sehingga akan disahkan sebagai undang undang.

Jadi bagaimana tanggapan sobat-sobat sekalian?

One Comment leave one →
  1. 4 Desember 2009 9:19 PM

    Yah memang bicara masalah agama, adalah hal yang sangat sensitif. Kalo tidak bisa dibicarakan dengan kepala dingin, pasti akan terjadi adu emosi yang tidak habis-habis😀 .

    Nah, sekarang saya hanya mau bertanya, apakah benar-benar Indonesia sendiri sudah sempurna dalam toleransi umat beragama? Kenapa sampai 2009 ini masih terdengar ada penghancuran atau penutupan rumah-rumah ibadah agama tertentu?

    Yang saya ingin tekankan adalah, sebelum kita (sebagai kesatuan bangsa Indonesia) berbicara tentang “kebebasan beragama”, apakah diri kita sendiri sudah benar-benar menjalankan hal itu? Jangan sampai kita berbicara A, tapi kita sendiri melakukan B.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: