Skip to content

“Mobil Telepati” diBuat di Kamboja

30 November 2009
tags:

Kamboja, negara miskin ini telah membuat suatu terobosan dalam bisnis otomotif. Sebuah mobil touring berwarna emas melintas di jalan raya Kamboja, menurut pemilik sekaligus Penciptanya, , Nhean Phaloek, mengatakan bahwa mobil tersebut dapat “beroperasi dengan telepati”. Emang bisa??

Nhean Phaloek dengan bangga memperlihatkan mobil rakitannya, yang diberi nama Angkor 333-2010, ia menyatakan bahwa dengan hanya menjentikan jarinya atau hanya dengan memikirkan membuka pintu mobil maka pintu mobil tersebut akan terbuka.

Nhean Phaloek yang berusia 51 tahun tidak mau mengungkapkan sistem pengendali jarak jauh di balik kesuksesannya tersebut. Dalam proyek pribadinya itu, Ia menghabiskan sekitar 5.000 dollar AS dan memerlukan waktu sekitar 19 bulan untuk mebuat kendaraan dari serat kaca itu. Phaloek bermimpi, mobil dengan dua tempat duduk tersebut akan membantu membangkitkan industri otomotif di negeri itu, yang tetap miskin setelah beberapa dasawarsa konflik.

“Saya sangat bangga dengan mobil ini karena banyak yang kagum dan terus bertanya bagaimana membuatnya,” katanya. Ia menambahkan, mobil tersebut dapat mencapai kecepatan sampai lebih dari 100 kilometer per jam. wow!!!

Angkor 333-2010 adalah mobil ketiga yang telah ia buat, dan merupakan yang pertama yang bisa bicara. Ketika ia membanting, terdengar suara dari dasbor, “Mengapa engkau menutup aku dengan sangat keras?”

“Puluhan tamu lokal dan asing telah datang dan melihat mobil saya,” kata Nhean Phaloek sambil tersenyum. “Seorang pria Inggris memberitahu saya bahwa itu adalah mobil James Bondnya Kamboja.”

Nhean Phaloek tidak sendiri dalam membuat “mobil masa depan”, Kong Pharith, mantan guru fisika dan matematika yang berusia 48 tahun juga telah membuat mobil sendiri yang menggunakan sinar matahari sebagai sumber tenaga utama dan mengatakan industri otomotif akan mekar di Kamboja.

“Pekerjaan kami akan menjadi bagian dari kekuatan penggerak bagi generasi mendatang untuk memasuki temuan baru dan memperlihatkan kepada dunia bahwa Kamboja memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang anda kira tak dapat kami kerjakan,” katanya.

Kong Pharith melanjutkan hasil temuannya pada 2005 yang menarik perhatian nasional karena membuat sepeda bertenaga matahari. Ia berpendapat bahwa ia sekarang benar-benar telah membuat hasil yang sungguh unik, kendaraan mirip jeep dengan warna oranye dan memiliki panel surya di atapnya.

Kong Pharith mengatakan ia memerlukan waktu empat bulan untuk merancang dan memberi sentuhan akhir pada mobil “tribrid”-nya, yang beroperasi dengan memanfaatkan energi surya, listrik dan bensin, sehingga dapat mencapai kecepatan 40 kilometer per jam dengan mesin 2.000 watt.

“Saya benar-benar bahagia dengan prestasi saya, tapi belum puas,” kata Pharith. Ia menambahkan kekurangan bahan dan teknologi modern di Kamboja adalah penghalang utama bagi produksi yang memadai.

Impian untuk membuat mobil di Kamboja mungkin tak lama lagi terwujud. Para pejabat telah mengumumkan rencana perusahaan pembuat mobil Korea Selatan, Hyundai, akan membuka pabrik di Kamboja barat-daya, sehingga dapat merakit sebanyak 3.000 kendaraan per tahun.

Kamboja sebenarnya telah merakit mobil di satu pabrik selama 1960-an, sebelum negeri tersebut terjerumus di dalam kancah Perang Vietnam.

Selama masa produksi yang singkat, mobil yang dikenal dengan nama “Angkor” itu dibuat dari suku-cadang import dan ban buatan dalam negeri.

Kendaraan yang pada dasarnya dirakit di Kamboja juga masih digunakan di daerah pedesaan, tempat tinggal sebanyak 80 persen dari 14 juta warga di negeri tersebut.

Para petani seringkali tergantung atas “sapi robot”, truk besar dengan bak terbuka buatan toko dengan menggunakan mesin China atau Vietnam, yang digunakan untuk membawa orang dan beras.

Mesin itu, yang biasanya berharga dua ribu dolar AS, juga berfungsi sebagai generator atau pompa air ketika benda tersebut tak berada di jalan pedesaan yang panjang dan berlubang.

Namun di Phnom Penh, kaum elit dan masyarakat kelas menengah seringkali terlihat mengendarai mobil impor, yang dipandang sebagai lambang prestise dan status.

“Rakyat Kamboja lebih mementingkan mobil mereka ketimbang pakaian yang mereka beli,” kata Jean Boris Roux, yang mengimpor kendaraan Ford ke Kamboja sebagai manager RM Asia di negeri itu.

Meskipun rakyat Kamboja mencintai mobil, Roux dan beberapa pengulas lain mengatakan industri domestik yang diragukan akan segera muncul terutama sejak tetangganya, Thailand, tetap menjadi raksasa perakitan otomotif di Asia.

“Ini bukan hanya sekadar memiliki empat tembok (buat satu pabrik). Anda memerlukan ratusan perusahaan yang memasok kursi, roda kemudi, atap. Ini takkan terjadi di Kamboja selama bertahun-tahun,” kata Roux.

One Comment leave one →
  1. 27 Desember 2009 7:53 AM

    Buenos dias. http://lezopolos.br

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: